Arahan Apel Pagi Ka.Kankemenag

Tidak ada komentar 131 views

Foto : Rasyid (Inmas)

Mamuju (Inmas). Islam menempatkan waktu sebagai perkara penting dan mendasar sehingga jika tidak dimanfaatkan dengan baik, maka kerugianlah yang akan diperoleh. Lebih dari kerugian materi, menyia-nyiakan waktu bisa berakibat terbengkalainya sisi akhirat seorang hamba. Sudah sepantasnya manusia memanfaatkannya secara baik, efektif dan semaksimal mungkin untuk amal shalih.

“Sejatinya, waktu adalah makna dari hidup itu sendiri” ujar Syamsuhri saat berikan arahannya pimpin apel pagi, Selasa (3/03). Dihadiri Kasi/Pelenggara, ASN JFT/JFU dan Siswa Prakerin SMKN 1 Mamuju.

Ka.Kankemenag H. Syamsuhri Halim menyatakan, Waktu adalah salah satu nikmat yang agung dari Allah SWT kepada manusia. Apabila waktu di sia-siakan terus-menerus maka untuk apa manusia hidup?. Waktunya tidak bermanfaat baik untuk dirinya dan orang lain. “Orang sukses dunia akhirat akan sangat menyesal jika waktunya terbuang percuma tanpa manfaat dan faidah”.kata dia dengan tegas

Olehnya, dalam posisi kita sebagai manusia yang sekaligus mengemban amanah sebagai ASN. Hendaknya kita perhatikan dan kita atur waktu dengan baik, waktu dan umur yang telah Allah berikan kepada kita, sebagai ASN Kemenag untuk mengikhlaskan niat-niat mereka serta bersungguh-sungguh dalam bekerja dan menjalankan kewajiban sesuai tugas dan fungsi kita.

Wajib atas setiap ASN untuk menggunakan waktu bekerja untuk bekerja. mendedikasikan waktu kita untuk bekerja. Jangan digunakan pada perkara-perkara lain selain pekerjaan yang wajib ditunaikannya pada waktu tersebut. “Semoga ini diimplementasikan, kerja Ikhlas membawa berkah, tentunya akan memberikan berkah kantor kita” urainya

Lanjut, Ka.Kankemenag menuturkan dirinya teringat pada H. S.Mengga, eks bupati Polewali Mandar, yang mempunyai ratusan hektar tanah. Singkat cerita, eks bupati tersebut karena ia adalah pejabat di kemiliteran, maka ia dikubur  menggunakan peti mati. Namun, ketika ingin dimakamkan dengan peti matinya, ukuran liang lahat beliau tidak muat. hingga akhirnya beliau dimakamkan tanpa peti mati, di liang lahat berukuran 1,5 m x 2,5 m (ukuran normal).

Inti dari kisah ini, kata dia, perlu kita sadari dan selalu ingat bahwa dunia ini hanya sementara saja. Ketika kita meninggalkan dunia hanya membawa kain kafan.

Hendaknya kita sadar bahwa dunia yang kita cari dengan susah payah ini tidak akan bisa kita bawa menuju kampung abadi kita yaitu kampung akhirat.