12 Santri Maju Di Medan Laga Pospenas Tingkat Propinsi Sulawesi Barat

Mamuju (Inmas Kemenag Mamuju).– Kemenag Mamuju melepas 12 santri dari 7 pondok pesantren yang berhasil meraih juarah satu tingkat Kab. Mengikuti event tingkat propinsi , santri dilepas secara resmi oleh Kepala Kantor DR.H.Syamsuhri Halim, M.Pd, didampingi oleh Ka. Subbag TU Kemenag Mamuju H. Adhar, S.Ag. M.Si dan Kasi PD. Pontren H. Burhanuddin, 25/9/2019, dirangkaikan dengan rapat koordinasi persiapan pelaksanaan hari santri 22 Oktober mendatang.

Ucapan apresiasi dari kepala kantor atas terlaksananya kegiatan POSPENAS dengan 3 cabang lomba, yakni pidato 3 bahasa, Kaligrafi dan Atletik,, sehingga dapat mengutus 12 santri untuk mewakili  Kab. Mamuju pad tingkat Propinsi

Syamsuhri dalam sambutannya. Ia sampaikan bahwa, kegiatan POSPENAS adalah sebagai upaya untuk “meningkatkan kompetitif wajah pondok pesantren, soal juara adalah soal dibelakang, yang terpenting adalah semangat kepesantrenan yang harus tetap dimiliki” .

Lanjut disampaikan semoga anak santri  yang ikut lomba tetap bersemangat agar dapat meraih juara untuk mewakili Propinsi Sulbar pada  tingkat nasional . ucapnya

Diselah pelepasan tampak rasa haru dari kepala kantor, saat menyaksikan salah satu anak santri tampil membawakan pidatonya dalam  Bahasa Arab, hal ini ditandai dengan tepuk tangan yang meriah, tentu dengan harapan semoga anak santri dari Kab. Mamuju dapat mewakili Propinsi Sulbar pada event selanjutnya.

Adapun Pondok pesantren yang mewakili Kab. Mamuju adalah pondok pesantren Miftahul Ulum, Muhammadiyah At-Tanwir, At-Taufiq Pattaropura Topore. Al-Amin DDI Tapalang,  Rezeki Anugera Ahu, Darul Qur’an Wal–hadits , dan  Al-Munarah Salutalawar.

Disampimg itu Syamsuhri rilis tentang Rancangan Undang-Undang Pondok Pesantren yang disahkan oleh DPR, kini pondok pesantren telah memiliki uandang-undang sendiri yang sama kedudukannya dengan undang-undang pendidikan nasional.

Kata Syamsuhri, dengan adanya angin segar bagi pondok pesantren, diharapkan kepada para pimpinan pondok pesantren agar memperbaiki data EMISnya (Education Management Information System) agar pemerintah dapat memberikan bantuan, kata kepala kantor (dr)